Wednesday, July 28, 2004
mairi nandarson
sebuah lagu
mungkin tidak cukup jauh
hingga kita melepas segalanya
lalu membiarkan rasa ingin
berbuah
menjadi kabar percintaan
Juli 2004
Posted at 04:39 am by m_nandarson
Permalink
Saturday, July 24, 2004
mairi nandarson
biarkan hujan menari
sibaklah rambutmu
dan geraikan menjadi tarian
lalu bersenandung
untaikan kata-kata puisi
yang pernah kau rekam dalam mimpi
yang tertabur nafsu
hujan
biarkanlah ia mengingatkan kita
pada luka
pada wajah seribu malu
dan biarkanlah gerimis
menganaki tapak-tapak
yang selalu membawamu
pulang kembali
membenalu menjadi kesepian
bersama hujan
kita nyalakan kata-kata
menari
bernyanyi
bermain
berlari-lari
hujan
biarkanlah menjadi rupa
yang biasa
Batam, Juli 2004
Posted at 12:10 am by m_nandarson
Permalink
Friday, July 23, 2004
mairi nandarson
entah kata apa
kebisingan menjadi rupa
dan kita sama-sama ternganga
trinh!
hanya satu kata
kita mengeja
dan tertawa
ban co nguoi yeu chua, katamu
dan aku hanya bisa tertawa
Tieng! kataku
dan kita entah bertemu dimana?
Trinh!
Juli 2004
Posted at 05:15 am by m_nandarson
Permalink
Thursday, July 22, 2004
mairi mandarson
engkau
bulan
datanglah
jemputlah
rindu
di daun-daun
rindang
di ranting-ranting
gersang
tebarkanlah
nada-nada
yang telah kuberi nama
dalam senandung
yang terlantun
di bibir hati
ketuklah
pintu
jiwa
tak perlu
resah
tuntunlah gundah
helai-helai
nafasmu
telah kurangkai
dalam sebingkai
irama
yang ingin kupetik
bersama dawai
saat rembulan
menatapmu
embun telah lewat
matahari
melewati dangau
melintasi jalan
menuju hari yang berlalu
kita di antaranya
menangisi
setiap detik ritme nafsu
yang selalu naif
untuk dikuburkan
bersamanya
bersama malam
nafsu dan rindu
kita biarkan
menuju malam
dan kita bersama-sama
menampar
mencoreng muka
dengan jerit hati
2
tidur
selepas siang
dan menuai mimpi yang tak berkesudahan
tataplah langit
dan hitung
berapa lapis lagi
awan mesti kita lewati
di sana ada bunga
yang kusemai
untukmu
tataplah laut
lapisan ombak
membentang mimpi
menatap kita dengan kekerasan
menghempas
menuju seribu maksud
batam, juni 2004
Posted at 09:34 pm by m_nandarson
Permalink
1
kemana kuhantamkan tanganku ketika marah ini sudah menjadi batu
engkau seperti sebuah ular
seperti sebuah kelinci, kadang seperti beruk
yang ingin kulumat menjadi partikel-partikel tak berbentuk
tetapi haruskah
2
tak ada ilalang yang mati
tak ada kupu-kupu yang tak hadir di musim semi
dan burung-burung akan berkicau di pagi hari
engkau ku biarkan
tapi kutikamkan hatiku
3
menarilah
tersenyum
perkabarkan tentang apa yang kau tak pernah pikirkan
bahwa di ujung lidahmu
di ujung rambutmu
ada darah
ada nanah
ada anak panah
4
kubiarkan rembulan
bintang-bntang berlalu tengah malam
kubiarkan doa
menjadi diam
menjadi redam
5
jam akan berdentang
kawan
engkau tidak sendirian
bayang-bayang kita akan bersua
entah kapan
6
aku berdiri
entah seperti apa
aku menatapmu
tak ada apa-apa
7
pulanglah
Batam, 2004
Posted at 09:13 pm by m_nandarson
Permalink
mairi nandarson
bila suatu hari nanti tuan-tuan
dan nyonya tidak bisa tidur
tidak bisa makan
resah dan terganggu kosentrasi
tuan-tuan dan nyonya-nyonya harus paham
sebab tuan dan nyonya sedang berada di padang luas tempat orang-orang menabur aroma mulut
tuan dan nyonya, bila aroma mulut itu tercium
mestinya tuan dan nyonya tidak tutup mulut
tetapi menutup telinga
bukankah aroma yang tercium adalah wajah-wajah
yang tuan dan nyonya letakkan diatas kepala sendiri
wajah-wajah yang menabikan diri
menindihkan kata hati
menurutkan hawa nafsu
mengacuhkan rasa
menikamkan emosi
menghamburkan harga diri
tuan dan nyonya tak perlu berpaling
mulut-mulut itu, mulut-mulut yang menganga
mulut-mulut yang menebarkan aroma
adalah mulut-mulut yang meninggalkan apa saja
yang tak pernah dijemput dan tertinggal
ketika mereka telah berada di gerbong kereta
tuan dan nyonya
bila suatu kali nanti merasa resah
teringat mimpi tentang bau busuk
tentang aroma mulut yang pernah tuan dan nyonya cium
tuan dan nyonya jangan bersedih
bila cerita tuan dan nyonya tak seorang pun
yang mengerti dan mengakuinya
bahkan mengingatkannya
tuan dan nyonya boleh muntah
muntah saja
tuan dan nyonya
bila suatu kali melihat tuan-tuan menari, tuan-tuan bernyanyi, nyonya-nyonya berdansa
tuan dan nyonya sebaiknya melepaskan diri
menjauhkan hati
merelakan segala rasa ingin yang pernah terucap menjadi janji-janji
tuan dan nyonya
temukan rasa di hati
menjadi bunga
menitahkan aroma
menjadi manusia
batam, maret 2004
Posted at 09:00 pm by m_nandarson
Permalink
mairi nandarson
semburat cahaya
menaburkan kicau
menggetarkan hati
mengantarkan kita ke lembayung
mengukir sebuah nama
adakah aku, bersamamu
dalam keraguan yang menyergap
mengintip setiap cahaya yang berubah buram
siang melewati malam dan sepi menikam kalbu
engkau dimana? adakah kita bersama dalam
mimpi yang sehati?
engkau mungkin ada dalam mimpiku
sedang menari, menangis dan mungkin melamun
ketika rindu tak terpadai
dan engkau tak tahu
ada keraguan yang merasuk
tentang bulan, matahari dan samudra
akankah kita bisa mengayuh harapan
engkau, adalah kekasih
yang menjadi pagar dalam tanaman hati
menjadi sauh dan menjadi layar hidup
engkau adalah pujangga
yang menina bobokan tangisku
membasuh luka
menyemai rindu
mendendangkan puisi
datanglah kekasih, tikam keraguanku
Batam, 20 Desember 2003
Batam
mairi nandarson
menantang matahari
tanpa senyum
kita biarkan bibir terkatup
mata terpejam dan menulikan telinga
entah dimana, tak ada kata yang pantas untuk diucap
sebilah pedang tak pernah terhunus
kapal-kapal terus berlayar
rumah-rumah tak terurus
kamar-kamar berantakan
yang terdengar hanya lenguhan
lalu suara halus penuh kenikmatan
"hari ini selesai sudah peruntungan kita"
entah siapa
kita tak pernah punya malu untuk mengatakan tidak
membiarkan elang, membiarkan ular, membiarkan tikus, membiarkan anjing-anjing
kita membisu
menuli
memejamkan tatap
Batam,
entah dimana
kaki berpijak
tak bersandar
melepas lelah
tidur tidak
mimpi pun tak terbuai
hang tuah murka
Batam
dalam sepi dan liukan tubuh tak berperi
bernyanyi, menari, menjilat dan tak peduli
kita bersembunyi dalam bilik
berdinding lembaran mata uang
Batam, 20 Desember 2003
Posted at 07:40 am by m_nandarson
Permalink
Wednesday, April 28, 2004
mairi nandarson
pertalian nasib yang engkau rangkai
telah memintal jalan hidup yang tak pernah kita tulis
ketika hati yang kau torehkan di hatiku telah berbuah jejak
kita tidak pernah tahu seperti apa pelabuhan yang akan menjadi dermaganya
pertarunganmu adalah jalan hidup
yang tak pernah ada harap
untuk tertumpang dalam jiwa yang gersang
engkau, bersenandunglah
ukirlah jemarimu dengan nada-nada indah
dan taburlah kegundahan dengan tawa
Batam, Juli 2004
Tikam
mairi nandarson
tak ada darah yang mesti kita alirkan
kau telah menyimpannya menjadi kabar
yang terkapar dalam ketakutan
Batam, Juli 2004
Posted at 10:59 am by m_nandarson
Permalink