mairi nandarson
semburat cahaya
menaburkan kicau
menggetarkan hati
mengantarkan kita ke lembayung
mengukir sebuah nama
adakah aku, bersamamu
dalam keraguan yang menyergap
mengintip setiap cahaya yang berubah buram
siang melewati malam dan sepi menikam kalbu
engkau dimana? adakah kita bersama dalam
mimpi yang sehati?
engkau mungkin ada dalam mimpiku
sedang menari, menangis dan mungkin melamun
ketika rindu tak terpadai
dan engkau tak tahu
ada keraguan yang merasuk
tentang bulan, matahari dan samudra
akankah kita bisa mengayuh harapan
engkau, adalah kekasih
yang menjadi pagar dalam tanaman hati
menjadi sauh dan menjadi layar hidup
engkau adalah pujangga
yang menina bobokan tangisku
membasuh luka
menyemai rindu
mendendangkan puisi
datanglah kekasih, tikam keraguanku
Batam, 20 Desember 2003
Batam
mairi nandarson
menantang matahari
tanpa senyum
kita biarkan bibir terkatup
mata terpejam dan menulikan telinga
entah dimana, tak ada kata yang pantas untuk diucap
sebilah pedang tak pernah terhunus
kapal-kapal terus berlayar
rumah-rumah tak terurus
kamar-kamar berantakan
yang terdengar hanya lenguhan
lalu suara halus penuh kenikmatan
"hari ini selesai sudah peruntungan kita"
entah siapa
kita tak pernah punya malu untuk mengatakan tidak
membiarkan elang, membiarkan ular, membiarkan tikus, membiarkan anjing-anjing
kita membisu
menuli
memejamkan tatap
Batam,
entah dimana
kaki berpijak
tak bersandar
melepas lelah
tidur tidak
mimpi pun tak terbuai
hang tuah murka
Batam
dalam sepi dan liukan tubuh tak berperi
bernyanyi, menari, menjilat dan tak peduli
kita bersembunyi dalam bilik
berdinding lembaran mata uang
Batam, 20 Desember 2003
Posted at 07:40 am by m_nandarson