mairi mandarson
engkau
bulan
datanglah
jemputlah
rindu
di daun-daun
rindang
di ranting-ranting
gersang
tebarkanlah
nada-nada
yang telah kuberi nama
dalam senandung
yang terlantun
di bibir hati
ketuklah
pintu
jiwa
tak perlu
resah
tuntunlah gundah
helai-helai
nafasmu
telah kurangkai
dalam sebingkai
irama
yang ingin kupetik
bersama dawai
saat rembulan
menatapmu
embun telah lewat
matahari
melewati dangau
melintasi jalan
menuju hari yang berlalu
kita di antaranya
menangisi
setiap detik ritme nafsu
yang selalu naif
untuk dikuburkan
bersamanya
bersama malam
nafsu dan rindu
kita biarkan
menuju malam
dan kita bersama-sama
menampar
mencoreng muka
dengan jerit hati
2
tidur
selepas siang
dan menuai mimpi yang tak berkesudahan
tataplah langit
dan hitung
berapa lapis lagi
awan mesti kita lewati
di sana ada bunga
yang kusemai
untukmu
tataplah laut
lapisan ombak
membentang mimpi
menatap kita dengan kekerasan
menghempas
menuju seribu maksud
batam, juni 2004
Posted at 09:34 pm by m_nandarson