|
semburat cahaya menaburkan kicau menggetarkan hati mengantarkan kita ke lembayung mengukir sebuah nama adakah aku, bersamamu dalam keraguan yang menyergap mengintip setiap cahaya yang berubah buram siang melewati malam dan sepi menikam kalbu engkau dimana? adakah kita bersama dalam mimpi yang sehati? engkau mungkin ada dalam mimpiku sedang menari, menangis dan mungkin melamun ketika rindu tak terpadai dan engkau tak tahu ada keraguan yang merasuk tentang bulan, matahari dan samudra akankah kita bisa mengayuh harapan engkau, adalah kekasih yang menjadi pagar dalam tanaman hati menjadi sauh dan menjadi layar hidup engkau adalah pujangga yang menina bobokan tangisku membasuh luka menyemai rindu mendendangkan puisi datanglah kekasih, tikam keraguanku Batam, 20 Desember 2003 Batam mairi nandarson menantang matahari tanpa senyum kita biarkan bibir terkatup mata terpejam dan menulikan telinga entah dimana, tak ada kata yang pantas untuk diucap sebilah pedang tak pernah terhunus kapal-kapal terus berlayar rumah-rumah tak terurus kamar-kamar berantakan yang terdengar hanya lenguhan lalu suara halus penuh kenikmatan "hari ini selesai sudah peruntungan kita" entah siapa kita tak pernah punya malu untuk mengatakan tidak membiarkan elang, membiarkan ular, membiarkan tikus, membiarkan anjing-anjing kita membisu menuli memejamkan tatap Batam, entah dimana kaki berpijak tak bersandar melepas lelah tidur tidak mimpi pun tak terbuai hang tuah murka Batam dalam sepi dan liukan tubuh tak berperi bernyanyi, menari, menjilat dan tak peduli kita bersembunyi dalam bilik berdinding lembaran mata uang Batam, 20 Desember 2003 |
| Leave a Comment: |